Antara Jakarta dan Toulouse — Berita Pariwisata — Perjalanan Menjelajah Dunia | Tours and Traveling | Travel Agent Online

Antara Jakarta dan Toulouse

Home > Berita Pariwisata > Antara Jakarta dan Toulouse

Antara Jakarta dan Toulouse


Pemandangan dari atas Menara Eiffel --MI/Lintang Rowe

MELAKUKAN perjalanan ke Toulouse, Prancis lewat Amsterdam, amboiii....satu hari harus melalui tiga negara. Empat belas jam dilalui dalam pesawat, satu jam transit di Dubai, dan akhirnya tiba di Schipool, bandar udara Amsterdam, Belanda. Selanjutnya, perjalanan dilanjutkan menggunakan Thalys Train ke Paris, melewati Belgia.

Enam jam perjalanan di dalam kereta api yang dilengkapi free wifi menjadi tidak begitu terasa. Di beberapa tempat kereta berhenti, mengangkut dan menurunkan penumpang.

Setiba di Paris, hari sudah memasuki senja. Menuju hotel, bersiap-siap lagi untuk melakukan penjelajahan Paris yang menjadi kota transit sebelum ke Toulouse, kota kecil yang menjadi tujuan utama. Sore itu, bersama rombongan Garuda Indonesia Airways yang akan melakukan penjemputan pesawat baru A330-200 di Toulouse, kami menghabiskan waktu di sepanjang Sungai Seine, Paris.

Keesokan harinya, penjelajahan yang sesungguhnya dimulai. Mengunjungi berbagai objek wisata, menelusuri jalanan Paris, mengabaikan kaki yang menjerit-jerit minta diistirahatkan. Pada saat seperti ini, rasa lelah memang harus diabaikan. Penelusuran kota lebih menantang untuk diikuti.

Menara Eiffel
Di siang hari, Paris lumayan riuh. Terutama di objek-objek wisata yang menjadi daftar wajib kunjung wisatawan, di antaranya Menara Eiffel dan Museum Lovre tempat lukisan 'Senyum Monalisa' karya Leonardo da Vinci bersemayam.

Jalanan di pusat-pusat kota Paris pun mengenal macet. Apalagi saat melintasi kawasan belanja murah, tempat dimana banyak imigran dari Turki dan negara-negara lain membuka usaha.

Sayang tidak bisa mampir. Waktu di Paris terlalu sedikit. Padahal, deretan tulisan sale di keranjang-keranjang besar menggoda selera shopping. Di kawasan ini, berjejer pula sex shop. Sekitar 15 menit perjalanan dengan bus dari Hotel Four Seasson George V yang terletak di kawasan elite Paris Champs Elysees, akhirnya rombongan tiba di Menara Eiffel.

Suasananya riuh rendah. Ratusan orang berdesakan, saling foto, menonton pertunjukan breakdance, mencoba menawar suvenir, sampai antrean mengular untuk menaiki menara. Wisatawan hanya diperkenankan naik di dua lantai Eiffel. Kemiringan bangunan yang kian doyong jadi pertimbangan utama. Setelah melewati sekitar 10 menit, akhirnya, tiba juga giliran menjejali lift menuju lantai satu dan dua.

Dari atas Eiffel, hamparan Paris terlihat jelas. Bangunan tinggi bersanding di tepi Sungai Seine, berlatar jembatan cantik dan deretan perahu layar.

Sayang, pemandu wisata kami, Denise Pecastain, hanya memberi waktu duapuluh menit. Jadi, kami harus segera turun. Di halaman Eiffel beberapa anggota rombongan masih sempat menawar gantungan kunci berbentuk menara Eifel. Dari satu euro untuk satu gantungan kunci, menjadi 7 gantungan seharga satu euro. Salim, salah satu penjual imigran cukup lancar menyebutkan angka 1-7, kata murah, dan terimakasih.

Notre Dame
Perjalanan dilanjutkan ke Notre dame, gereja dengan bangunan sangat indah. Lagi-lagi hanya diberi waktu 20 menit untuk menelusuri tempat seluas itu. Sebelum pintu masuk Notre Dame, terdapat sebuah jembatan berpagar besi yang dipenuhi kunci gembok.

Menurut Dennise, gembok itu perlambang kekuatan cinta dan persatuan sepasang muda-mudi. Jadi, setiap pasangan bisa mengikuti tradisi memasang satu gembok bertuliskan nama mereka.

Museum Louvre
Dari Notre Dame perjalanan berlanjut ke Museum Louvre. Bangunannya indah, bangunan tua bersanding dengan bangunan modern berbentuk kubah. Di tempat ini ribuan wisatawan berkeliaran. Luar biasa padat. Apalagi di bagian dalam kubah, tempat awal perjalanan di museum dimulai. Untuk ke kamar kecil (perempuan) saja, bisa-bisa harus mengantre lebih dari 10 menit.

Di Louvre, lagi-lagi Denisse hanya memberi waktu sangat sedikit. Seorang teman mengeluh karena rencana membeli duplikat lukisan 'Senyum Monalisa' tak bisa terwujud.

Melakukan perjalanan bersama rombongan tur, benar-benar tidak memungkinkan mengeksplore satu tempat sampai tuntas. Semuanya serba tergesa-gesa karena acara dipadatkan supaya bisa mendatangi banyak tempat.

Jadi, rencana saya untuk menelusuri jejak cerita dalam novel populer Da Vinci Code pun gagal diwujudkan. Tidak terasa waktu terus berjalan.

Sore kami kembali ke hotel, dan menutup malam dengan pertunjukan kabaret di Lido yang terletak di kawasan Champs Elysees. Untuk makan malam berikut menonton pertunjukkan, tarifnya sekitar 150-250 euro atau antara Rp1.800.000 sampai Rp3 juta. O iya ditambah lagi harus menitipkan tas dan jaket dengan biaya 2 euro atau sekitarRp25 ribu. (Lin/X-13)

Mediatravelista/MI
Tags:
Silahkan hubungi operator kami dengan telpon atau yahoo Messenger

Hotline : 021 87780234

Telkom Flexi

: 021 365 31 234

Telkomsel

: 0813 855 70 234

Excelcomindo

: 0878 7856 7924

Esia (01010)

: 021 929 80 234

Indosat

: 0815 7444 3 234

Fax

: 021 8778 0097

0 komentar

Poskan Komentar