Tangalooma, Aku kan Kembali — Berita Pariwisata — Perjalanan Menjelajah Dunia | Tours and Traveling | Travel Agent Online

Tangalooma, Aku kan Kembali

Tangalooma, Aku kan Kembali



GOLD Coast, telah menjadi ikon pariwisata Queensland. Kawasan pantai yang eksotik itu terletak persis di bibir Samudra Pasifik yang bergelombang besar. Bisa ditempuh hanya 1 jam berkendara dari ibu kota Queensland, Brisbane.

Gold Coast merupakan salah satu tempat wisata yang kami kunjungi atas undangan Tourism Queensland dari belum lama ini. Sebagai daerah tujuan wisata penting, Gold Coast memang belum tertandingi di seluruh negara bagian yang berjuluk the Sunshine State itu.

Tapi, dari kunjungan selama lima hari, kami juga menemukan beragam kegiatan lain yang bisa menjadi alternatif mengisi libur Natal dan Tahun Baru. Salah satu tempat yang saya sarankan ialah Tangalooma Island Resort.

Tangalooma terletak di Pulai Moreton. Dari Brisbane, dibutuhkan waktu tempuh dengan cara berlayar sekitar 75 menit. Kami tiba di Tangalooma sekitar pukul 11.15 waktu setempat. Langsung terhampar keindahan pasir putih pantai barat Pulau Moreton. Ketika tiba di bibir pantai, kami menyaksikan beberapa wisatawan tengah memberi makan burung pelikan, dipandu petugas resor. Itu salah satu kegiatan yang dipersiapkan pengelola hotel.

Safari gurun

Kegiatan pertama yang kami lakukan di tempat ini ialah Desert Safari Tour. Untuk menuju lokasi, kami diangkut dengan dua bus. Saya bergabung dengan rombongan dari Jepang. Bus yang kami tumpangi merupakan bus khusus yang didesain untuk off-road.

Sebelumnya, saya tidak membayangkan akan melewati jalan tidak beraspal. Selama setengah jam, kami melewati jalan tanah yang sebagian berlumpur. Di kiri dan kanan merupakan hutan belantara.

Ketika melewati jalan yang sulit, melalui pengeras suara, supir mengingatkan kami untuk memegang kursi. Tidak jarang terdengar teriakan penumpang kala bus melaju di jalan terjal berliku.

Selang beberapa waktu, kami memasuki wilayah padang pasir. Bus berhenti di dekat sebuah bukit pasir. Sopir menyuruh kami semua turun dan melepas sepatu. Dia mengatakan saatnya melakukan sand tabogganing, atau meluncur di padang pasir. Lalu, dia mengeluarkan puluhan papan tipis berukuran sekitar 0,8 x 30 x 100 sentimeter.

Kami mendapat 'kursus' singkat, bagaimana cara meluncur dengan alas papan itu. Saat meluncur, tangan memegang kedua ujung papan, sementara posisi kedua siku harus diangkat tinggi-tinggi. "Masing-masing mendapat satu papan. Mari kita coba langsung, ayo kita naik," ujarnya memberi komando kepada kami untuk menaiki bukit setinggi sekitar 50 meter dengan kemiringan sekitar 45 derajat itu.

Awalnya saya tidak berani dan memutuskan untuk menjadi penonton saja. Nyali ciut melihat ketinggian bukit pasir itu. "Ayolah, kamu akan rugi kalau tidak mencoba. Lagian, kamu kan sudah jauh-jauh datang ke sini," ujar Chad Croft, Sales Manager Asia Tangalooma Island Resort, memberi semangat. Akhirnya, saya pun memberanikan diri mencoba.

Untuk sampai ke puncak memerlukan energi ekstra. Apalagi buat saya yang tidak pernah olahraga. Setelah mendaki sekitar 15 menit, akhirnya sampai di puncak dan menunggu giliran untuk meluncur.

Hore... akhirnya saya melesat dengan papan peluncur. Saya terus melaju hingga akhirnya berhenti sendiri di permukaan rata. Saya hitung-hitung tidak lebih dari 60 detik. Dan, sensasinya ruarr biasa.

Chad mengajak saya untuk mengulang lagi. Saya menolak, bukan karena takut, melainkan rasanya tidak kuat lagi mendaki bukit pasir yang terjal itu.

Dari pengamatan saya, tidak sedikit peserta yang berhenti di tengah karena terbalik. Namun, tidak ada yang mengalami luka karena pasirnya sangat lembut. Ada juga meluncur secara tandem. Satu orang memeluk pundak orang yang memegang papan peluncur.

Lumba-lumba

Pengalaman menarik lainnya ialah memberi makan ikan lumba-lumba, sekitar pukul 18.45 waktu setempat. Saya bersama wisatawan lain berjajar rapi dalam barisan. Kami masing-masing memegang sepotong ikan untuk diberikan kepada lumba-lumba yang sudah berada di pinggir daratan. Saat umpan disambar, saya merasakan sentuhan basah lumba-lumba liar.

Menurut Chad, kegiatan seperti ini dilakukan tiap malam dan belum pernah ikan lumba-lumba tidak datang. Ada sekitar 10 lumba-lumba yang datang tiap malam dan diberi makan wisatawan. "Awalnya yang memberi makan adalah para nelayan sekitar 10 tahun silam. Kemudian kita manfaatkan untuk menarik minat wisatawan," ujar Chad.

Untuk anak-anak, pengelola hotel menyediakan beragam permainan, didampingi petugas berpengalaman. Tapi jika Anda hanya ingin bermalas-malasan, silakan berjemur di pantai pasir putih yang membatasi birunya air laut. Sangat indah. Itulah sebabnya, saya bertekad untuk kembali ke tempat ini. Namun, kali ini tidak sendiri tetap mengajak putri kesayangan saya. Tangalooma, saya pasti kembali!

sumber :
http://www.mediaindonesia.com/mediatravelista/index.php/read/2009/10/23/17/2/Tangalooma-Aku-kan-Kembali
Tags:
Silahkan hubungi operator kami dengan telpon atau yahoo Messenger

Hotline : 021 87780234

Telkom Flexi

: 021 365 31 234

Telkomsel

: 0813 855 70 234

Excelcomindo

: 0878 7856 7924

Esia (01010)

: 021 929 80 234

Indosat

: 0815 7444 3 234

Fax

: 021 8778 0097

0 komentar

Poskan Komentar